Sejarah GKP Cirebon

Pendahuluan.

Pada tanggal 27 Sep 2013 ini GKP Cirebon memasuki usia 149 tahun.

GKP+Cirebon

Perjalanan panjang kehadiran GKP Cirebon telah memberi warna pada perjalanan kota Cirebon. Dr. Hendrik Kraemer dalam tulisannya menyatakan bahwa dari laporan-laporan zendeling dan para guru kita mendapatkan kesan berikut mengenai keadaan di resor Cirebon. Jemaat kota Cirebon berjumlah 244 orang, Diantaranya orang Tionghoa merupakan minoritas. Jemaat itu jemaat campuran, yang terdiri dari orang Tingkhoa, Jawa, Sunda, Ambon, Menado, Matak dan Sangir.Kendati orang Tionghoa merupakan minoritas, berhadapan dengan kelompok2 bangsa lain merupakan kesatuan yang padat, yang juga lebih giat dan bergairah (Kraemer laporan jawa barat, hal..). Catatan Kraemer ini dibuat pada tahun 1930. Lebih lanjut Kraemer mencatat : Dalam bulan oktober 1930 penduduk Pribumi provinsi West-jawa berjumlah 11.039.350 jiwa. Dari jumlah itu 8.5% saja yang tinggal dikota, selebihnya, penghuni pedusunan. Mayoritas 8.5% saja yang tinggal di Batavia, Bandung dan di Kotapraja, Pada tahun yang sama, jumlah orang Tionghoa di Jawa Barat 259.718 (dijawa tenghah 130.360, dijawa timur 154.487). Di jawa barat mereka merupakan 2.28% seluruh penduduk. Dari mereka 52% tinggal di Kotapraja. Dipedusunan tinggal 123.978 orang Tionghoa diantaranya 60% di tanah partikulir (yang bekas atau masih ada)orang Tinghoa paling menonjol di Batavia, Cirebon. Dikabupaten Sumedang, Garut, Tasikmalaya dan Ciamis. Orang asing lainnya, terutama orang Arab berjumlah 17.300 jadi 0.15% penduduk. Dari mereka 70% tinggal di Kotapraja. di Cirebon, orang Arab merupakan 2,9% penduduk. Di jawa barat jumlah wanita melebihi jumlah pria. Menurut Minde Welvaartsonderzoek-verslag (dimulai 1905) poligami sering terjadi dareah serang, priangan dan Cirebon. Di tengah lautan penduduk itu ada sejumlah orang Kristen Pribumi, yang diasuh oleh NZV, Akhir 1932 mereka …, sedangkan orang kristen Tionghoa berjumlah 1.405, seluruhnya 5.497 orang kristen. Catatan Kraemer ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah GKP Cirebon. hal ini mengingat potret yang disampaikan Kraemer di Belanda. Kemudian mendorong kemandirian GKP dan GKP Cirebon salah satu pendukung sidang pertama Rad Ageng pada tahun 1934. Dalam tulisan singkat ini disampaikan secara umum mengenai kehadiran GKP di Cirebon sejak berdirinya sampai saat ini.

Masa tahun 1864 – 1934.

Kehadiran GKP Cirebon tidak bisa dipisahkan dari semangat Penginjilan yang dilakukan oleh Nederladsche Zendifsvereeninging (NZV). Lembaga Zending NZV didirikan di Rotterdam tanggal 2 Dec 1858, dan atas saran sebuah lembaga pekabaran Injil di Jakarta (Genootshap voor in-en uitwendige Zending GIUZ), NZV bekerja di Jawa Barat di kalangan orang-orang Sunda. Pada tahun 1863 tiga orang utusan pertama NZV yiatu Cabrs, D.J. van der Kinden dan G.J. Grashuis , tiba di Tanung priuk dan melanjutkan perjalanan ke Bandung. Tetapi karena kesulitan mendapatkan izin kerja D.J. van der Linden pindah ke Cirebon, kemudian ke Indramayu. D.J van der Linden memulai pelayanan di Cirebon Nov 1863 walaupun pada saat itu belum mendapatkan ijin dari keresidenan Cirebon, tetapi hal ini tidak menghambat pelayanan yang dilakukan. Dan dalam waktu satu tahun pelayanan setelah beliau tiba di Cirebon dibaptislah seorang ibu keturunan Tionghoa yang bernama ibu Salaber. Mengingat saat itu ijin untuk beliau belum didaptkan maka pelaksanaan baptisan ini dilaksanan oleh Pdt. JGW Krol, seorang pdt Indeshe Kerk. Dan dalam kurun waktu setahun pelayanannya sudah tercatat 5 orang yang dilayani, yaitu ibu Salaber dan 1 keluarga yang berasal dari Tegal. Pada tahun 863, NZV mengutus seorang tenaga penginjil yang akan melayani di Cirebon, beliau bernama Atze Dijkstra (1840-1893). Beliau berangkat dari Nederland pada 21 Oct 1863, dan tiba ti Batavia pada 22 jan 1864, kemudian beliau melanjutka perjalanan ke Cirebon beliau bersahabat dnengan seorang perwira keturunan Tionghoa yang bernama Letnan Ong Paw. letnan Ong Paw bahkan memberikan tanah dan rumahnya untuk menjadi tempat beribadah emaat yang menjadi pelayanan A.Dijkstra. Dari pelayanan Dijkstra maka pada tanggal 27 Sep 2868 dilaksanakan sakramen baptisan kudus atas bapak Sarban dan ibu Widjem. Mereka adalah orang pribumi yang berasl dari Tegal. Sementara itu baru tanggal 5 Des 1868 Letnan Ong paw dan istri juga di pabtis. Hubungan baik dengan Letnan Ong paw ini memperkuat pelayanannya yang dilaksanakan oleh Dijkstra. Dalam pelayannya Dijkstra kemudian dibantu oleh Tarub, seorang pribumi yang dikirim secara khusus oleh Anthing. Beliau melayani sampai meninggal dunia pada 7 oct 1893. Para Zendeling silih berganti melayani di Cirebon, pelayanan dilaksanakan kepada orang-orang Jawa dan kemudian berkembang kepada orang-orang yang berasal dari Ambon, Minahasa dan Batak. Bahasa yang dipergunakan dalam pelayanan adalah bahasa melayu. Dari catatan tahun 1885 diketahui bahwa jumlah jemaat berjumlah 39 orang. mereka terdiri atas 10 orang Jawa Barat, 13 orang Ketrurunan China, dan 16 orang keturunan Indo, serta Ambon. Secara presentase, jumlah anggota jemaat dari suku Sunda lebih sedikit daripada etnis lain dari Jawa barat.

Masa tahun 1934 – sekarang.

Pelayanan para zendeling terus mberkembang juga melalui pelayanan pendidika dan kesehatan. Ruang pelayanan mereka bukan hanya di Cirebon tetapi juga turut membantu pelayanan kesehatan baik itu di beberapa zendeling sempat mengambil bagian sebagai pengurus lebaga kesehatan yang ada. Dan dalam semangat kebersamaan pula gereja Cirebon hadir dalam sidang Rad Ageng yang sangat bersejarah itu dan turut mengambil bagian dalam keputusan bergabung mengadi bagian dari Gereja Kristen Pasundan. Hal ini juga tidak lepas dari dorongan yang ditujukan oleh Dr. Hendrik Kraemer kepada pengurus besat NZV untuk memberi pengasuhan atas jemaat-jemaat di pasundan menjadi Gereja yang membuat Ia melihat bahwa jemaa-jemaat pasundan dan para pemimpin pribum punya potensi yang dapat dikembangkan kalau mereka sudah diserahkan tanggung jawab yangpenuh. Masa ini memberikan upaya semua pihak (para zendeling, pmemimpin pribumi dan warga jemaat) untuk menyesuaikan diri degan situasi yang baru. Hal ini menyangkut semua segi kehidupan dan jalinan0jalinan hubungan dalam gereja serta segala kegiataannya. perubahan stats dari jemaat-jemaat zending menjadi suatu gereja yang mandiri, menuntut perubahan di segala bidang kehidupapn gereja misalnya hubngan antara para zendelng dengan petugas pribumi, hubungan antara warga jemaat dengan para pemimpin gereja yaang semangat kemandirian jugalah maka pada tanggal 18 agus 1935, ditahbiskan seorang pendeta pribumi pertama di GKP Cirebon, yaitu Pdt Yoseph athe. Pada saat itu juga Pdt Yeseph Atje digantikan oleh Pdt. Enos Kaarubi. Dalam kepemimpinan Pdt. Enos Kaarubilah terjadi peristiwa yang bersejarah bagi GKP jemaat Cirebon, Pada tahun 1942 gedung gereja di jalan Pulasaren di bom tentara jepang, mengingat kehancuran gedung Gereja di pulaseran maka jemaat kemudian menggunakan gedung gereja milik Indesche Kerk di jalan Yos Sudarso. Gedung gereja diperkirakan berdiri pada tahun 1788 dan diperuntukka bagi pejabat negara dan juga orang belanda atau penduduk yang mempergunakan bahasa Belanda (menurut data dari wikipeda, gedung gereja ini merupakan gedung gereja tertua nomor tiga di Indonesia, sementara untuk Cirebon merupakan salah satu gedung tertua.

1dc71-gkp2bcirebon1

mengingat hal ini tentu saja dapat dipahami pemerintah menjadikannya sebagai cagar budaya). Gedung gereja ini ditinggalkan oleh orang-orang belanda yang terancam pendudukan Jepang. Catatan yang disampaikan oleh Pdt. J.J. Aijal yang mewakili Indesche erk untuk meninjau gedung-dgedung gereja milik Bethel diberi ijin untuk memakai gedung gereja ini daripada dipakai oleh pihak-pihak yang tidak beranggung jawab. Dan atas kasih Tuhan serta dalam semangat Oikumnis maka pada tanggal 22 Oct 1981, gedung gereja dihibahkan oleh BP Sinode GPIB yang diwakili oleh Pdt. AJ Sahetapy Engel sebagai ketua Umum dan Pdt. Johny A Assa sebagai sekretaris Umum, kepada BP Sinode GKP yang diwakili oleh Pdt. Arifin Dani selaku Ketua Umum dan pdt. Weinata Sairin selaku Sekretaris Umum. Sementara saksi-saksi dari Majelis Jemaat GKP Cirebon yaitu Bpk. Johny Sooriton dan Ibu Shiely Ban den Bosh. Sejak awal berdirinya pelayanan pada zendelinng di kota Cirebon mereka melakukan juga pelayanan di desa-desa sekitar Cirebon, Kuningan dan Indramayu pelayanan ini terus dikembangkan dengan baik, beberapa wilayah pelayanan itu adalah: Ciguru, Tangkoo, Cibuut, panguragan Lor, da Kancana Girang. sAmpai saat ini ada ag sudah menjadi J=jemaat mandiri ada jga sudah tidak dilayani lago oleh GKP. Para pendeta yang melayani diGKP Cirebon elaksanakan tugasnya dalam ketulusan hati dan semangat yang kuat. Wilayah pelayanan yang luas dengna medan yang cukup berat tidak menghambat jalannya pelayanan. Mengingat luas dan beratnya wilayah pelayahan tersebut dalam sejarah pelayanan di GKP Cirebon sejak lama memiliki konsep untuk pelayanan dilakukan lebih dari satu pendeta. sejak masa para zendeling hadir guru injil maupun orang-orang yang memang secara khusus mendampingi mereka. dan konsep ini terus berlanjut dengan pelayanan yang bersama dilakukan Pdt. Kesa Yoenoes dengan Pdt. Arifin Dani. Ketika masa pelayanan Pdt. Chita R Baiin, pernah dihadirkan 2 orang vikaris. Begitu juga ketika masa pelayanan Pdt. Supriatno hadir Pdt. Risma Manalu dan kemudian dilanjutkan oleh Pdt. Yayan Sampai dengan hadirnya Pdt. Adama Antonius Sihite. Para pendeta yang melayani di GKP Cirebon bukan hanya para pendeta GKP, tetapi juga daru beberaa Geeja yang karena tinggal di Cirebon turut melayani di Jemaat ini. Para pendeta tersebut antara lain: Pdt. Anna Wokas Rondoh dan Pdt. Prapto. Dalam pelayanannya juga GKP Cirebon menjadi tempat pentahbisan Pdt. Tri Admadja sebagai pendeta GKP dalam pelayanan di TNI AD. Konsep pelayanan yang dimunculkan sejak masa para zendeling ini menunjukkan semua pelayanan yang dilakukan harus menyentuh seluruh bagian warga jemaat. Semangat tersebut terus berkembang dengan pelayanan kehidupan persekutuan yang saling berbagi. Salah satu sisi kebersamaan persekutuan yang dalam berbagi di GKP Cirebon adalah kegiatan makan bersama. Makan bersama dilaksanakan minimal satu bulan sekali setelah kebaktian minggu dengan sebutan Tea Morning. Tidak ada catatan khusus kapan dimulainya kegiatan ini, namun jemaat dengan sukacita memaknainya dalam semangat kasih persaudaraan. Dalam kegiatan tersebut semua orang dapat duduk bersama, tua muda, besar kecil, semua sama. Ini merupakan kebersamaan yang luhur. Berbagi bukan hanya menjadi bagian internal jemaat, namun jemaat juga berbagi dalam kebersamaan dengan Gereja dan sesama. Hal inilah yang membuat sejak zaman para zendeling warga GKP Cirebon mengambil bagian dalam memaknai Tri Tugas Gereja maupun apa yang kemudian disebut Tri Wawasan GKP. hal ini menunjukkan dengan keterlibatan di berbagai aktivitas klasikal, sinodal maupun oikumenis. Bahkan partisipasi jemaat juga ditunjukkan dalam hubungan dengan lembaga-lembaga sosial, maupun sosial keagamaan. Disadari kehidupan warga Jemaat di cirebon membutuhkan sikap yang terbuka terhadap berbagai situasi yang ada disekitarnya. Sikap ini telah ditunjukkan oleh Ny. Salaber yang dicatat memiliki keterbukaan pada masyarakat. Bahkan lahan yang dimikinya ditanam tanaman obat yang dipergunakan bagi masyarakat. Sikap terbuka dan murah hati inilah yang membuat Ny. Salaber dierima dengan baik ditengah masyarakat. Keterbukaan ini kemudian menjadi ciri dalam pelayanan GKP Cierbon. Walaupun anggota jemaat berasal dari berbagai suku namun sikap positif terus ditampakan ditengah masyarakat. Hal ini ditunjukkan melalui keterlibatan dalam kegiatan Oikumenis maupun berperan aktif alam membangun dialog antar umat beragama. Sikap ini bukan hanya menjadi agenda Majelis Jemaat saja tetapi melibatkan seluruh bagian warga jemaat. Karenanya dalam kehidupan sehari-hari setiap bagian jemaat diingatkan untuk tetap terlibat dalam berbagai aktifitas masyrakat. melalui keterlibatan di tengah masyarakat tersebut diharapkan merupakan setitik sumbangsih GKP Cirebon bagi kota yang dicintai ini.

Catatan :

a. Penentuan tanggal ulang tahun jemaat ditentukan melalui Rapat Jemaaat tanggal 9 April 2013. Penentuan ini berdasarkan sumber-sumber yang telah ditelurusi dan Buku Registrasi jemaat yang diperkirakan dibuat pada tahun 1868.

b. Data para pelayanan di Cirebon.

1. Pada tanggal 16 Agust 1862 telah di utus tenaga penginjil ke Cirebon, yakni: Dirk Johannes van der Linden, tiba di Cirebon pada nov 1863. Beliau bekerja selama satu tahun. Dan pada masa pelayanannya dilaksanakan baptisan kudus pada ibu Salaber seorang keturunan china yang dipimpin oleh Pdt. J.G.W. Krol, tahun 1864.

2. Pada tahun 1863 NZV mengutus seorang tenaga penginjil yang aka melayani di Cirebon, beliau bernama Atze Dijkstra (1840-1893). Beliau berangkat dari Nederland pada 21 Oct 1863 dan tiba di Batavia pada 22 Jan 1864. Beliau melayani sampai meninggal dunia pada 7 Oct 1893.

3. Pada pelayanan A. Dijkstra dilaksakan sakramen baptisan kudus pada tanggal 27 Sep 1868 pada Sarban dan Widjem dan 5 Des 1868 pada Letnan Ong Pauw dan istri.

4. Dijkstra sejak Jul 1877 dibantu oleh Taroeb, seorang pribumi yang diutus Mr. Anthing untuk membantu pelaksanaan pekabaran Injil di Cirebon.

5. Pengganti A, Dijkstra adalah J.J.Muis 1896-1899

6. Otte van der Brug, melayani tahun 1900-1909

7. S. Coolsma mencatat bahwa pada tahun 1900, seorang perempuan asal Kuningan bernama Meneb, diangkat menjadi pembantu zendeling dengan mendapat gaji dari NZV. 8. Elizabert Cornelis Burgstede, melayani tahun 1935-1937.

9. Guru Injil Enos Djalimuoen, melayani di GKP Cirebon tahun 1836-1839.

10. Lulof Hendrik Put, melayani 19838-1940.

11. Pdt. Joseph Atje, dtahbiskan d GKP Cirebon 18 Agus 1935.

12. Pdt. Enos Kaarubi, melayani sejak 3 Nov 1941.

13. Pdt. Kesa Junus melayani sejak tahun 1943 di GKP Cirebon dan beberapa jemaat lainnya. Secara khusus melayani dan tinggal di Cirebon pada tanggal 1 Aug 1961 – 1 Jan 1975.

14. Pdt. Arifin Dani S.Th ditahbiska di GKP Cirebon pada 22 Feb 1968 dan melayani sampai 1971.

15. Pdt. Tri Atmadja SmPAK, ditahbiskan di GKP Cirebon pada 15 Oct 1976

16. Pdt Chita R Baiin S.Th, ditahbiskan pada 24 Mar 1983 dan melayani sampai 1992.

17. Pdt. Supriatno M.Th, melayani 1992-2002

18. Pdt. Rasima TE.F Manalu ditahbiskan di GKP Cirebon pada 1 Agus 2000 dan melayani sampai 2004

19. Pdt. Adama Antonius Sihite S.Si, melayani dari 24 Apr 2006 -2012

20. Pdt. Yayan Heryanto S.Si, sejak awal diproyeksikan utuk melayani di GKP Cigugur mengingat GKP Cigugur masih merupakan Bakal Jemaat, maka basis pelayanan beliau adalah GKP Cirebon.

21. Pdt. Edward Tureay, S.Th, melayani 05 Aug 2012 – 2018

gultom_PdtEdward

22. Pdt. Daryatno, Melayani 2018 sampai sekarang

Disadur Dari kumpulan Tata kebaktian GKP Cirebon

Tuhan memberkati

Tks pdt Daryatno atas izinnya

Author: admin

I am a employee of HCMI at Cikarang since Aug 1987

Leave a Reply