SEJARAH KEHIDUPAN OMPU TUAN MANORSA

 

26/03/2019,  6:47 pm “Didapat dari inaguda saya di Perum AL Pasar Minggu”

RIP Tulang Samen Purba (7)

20160728_215454

photo dari “http://purbalaban.blogspot.com”

Saribu Dolok adalah satu desa di Simamora Nabolak tempat kelahiran Tuan Manorsa. Simargalung adalah satu desa yang terletak di lobu Sunuk – Huta Tinggi (Kabupaten Tapanuli Utara), dimana Tuan Manorsa meminang seorang gadis, putri Raja Ompu Lamak Nabolon marga Pasaribu-Habeahan menjadi istrinya (parsonduk bolon).
Dari pernikahan Tuan Manorsa dengan boru Pasaribu Habaeahan di karuniai 3 (tiga) anak laki – laki yaitu : SORTAMALELA, TARAIM dan SOIMBANGON

Tuan Manorsa ada menerima Pusaka/ilmu perdukunan dari orangtuanya, yaitu RAJA PURBA PARHORBO (anak kedua dari Toga Purba), berupa TORSA – TORSA perdukunan. Itulah sebabnya ia disebut TUAN MANORSA.
Sebagai seorang dukun, Tuan Manorsa juga suka berkelana kemana-mana dan bermain judi, dimana hal-hal yang demikian adalah pekerjaan dan kebiasaan dari anak-anak Raja pada zamanya.

Pada suatu hari sepulang dari perjalanan, Tuan Manorsa menyuruh ompung boru Pasaribu menagih hutang dari paribannya (adik) yang bernama SORIMUNGGU MANALU (suami dari adik istrinya sendiri), dimana hutang tersebut adalah hasil kemenanganya pada waktu bermain judi dengan Sorimunggu Manalu.
Pesan Tuan Manorsa kepada ompung boru Pasaribu, jika hutangnya sudah dibayar jangan lupa sekalian meminjam Ninggala (alat untuk bertani) untuk dipakai oleh pekerja sawah kita nanti.
Pada saat ompung boru Pasaribu tiba di Lobu Sunuk Toho, ditemuinya paribanya sedang menyisir rambut dan mencari kutu Sori Munggu Manalu,dimana pada zaman itu kaum laki-laki pun berambut panjang.
Setelah ompung boru sampai di rumah adiknya ia memberitahu maksud dan tujuannya adalah untuk menagih hutang Sori Munggu Manalu dan mau meminjam Ninggala.
Atas keramah tamahan adiknya menyambut kedatangan kakaknya, adiknya menjawab soal hutang nanti akan saya bayar, tetapi kita harus makan terlebih dahulu.
Sambil menunggu nasi dimasak, adiknya mengajak kakaknya untuk bersama-sama mencari kutu Sori Munggu Manalu sambil ngobrol-ngobrol (berbincang-bincang).

Karena sudah lama menunggu pulangnya ompung boru, maka Tuan Manorsa menyuruh asistennya menyusul menanyakan apa sebabnya ompung boru lama sekali belum pulang.
Sesudah asistennya tiba di rumah Sori Munggu Manalu, dia melihat ompung boru sedang mengobrol dengan adiknya sambil mencari kutu Sori Munggu. Mendengar laporan yang diberitahu,apa yang di lihat oleh asistennya membuat dia menjadi marah dan beringas, maka Tuan Manorsa pun segera menyusul dengan menunggangi kuda Sihapas Pili untuk membuktikan apa yang dilihat oleh asistennya itu benar atau tidak.
Setelah tiba di depan pintu gerbang tempat Sori Munggu, dari kejauhan Tuan Manorsa melihat dan menyaksikan apa yang dilaporkan oleh asistennya itu benar, maka dengan cepat dia beranjak pulang.
Dari kejauhan sebenarnya ompung boru Pasaribu juga sempat melihat wajah Tuan Manorsa di depan pintu gerbang, melihat kejadian itu ompung boru Pasaribu pun merasa heran dan ketakutan. Maka ompung boru merasa bahwa Tuan Manorsa sudah dalam keadaan marah sehingga dia langsung berpamitan pulang kepada adiknya.

Sesudah ompung boru Pasaribu tiba di rumah, Tuan Manorsa pun bertanya, kenapa begitu lama?
Ompung boru Pasaribu dengan jujur menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Tuan Manorsa, dimana paribanya mengajak supaya terlebih dahulu kita makan bersama, tetapi sebelum nasinya masak, sambil ngobrol-ngobrol adik mengajak untuk bersama-sama menyisir rambut dan mencari kutu Ompu Sori Munggu Manalu.
Rupanya Tuan Manorsa telah mengasah pisau sebelumnya dengan sangat tajam, mendengar cerita itu dalam keadaan marah dan beringas Tuan Manorsa langsung menangkap payudara sebelah kiri ompung boru dan memotongnya. Itulah sebabnya Tuan Manorsa disebut orang SITAMPUL ABUNA (sitampul par-hutana).

Seketika itu ompung boru Pasaribu pun menjerit dengan sekuat-kuatnya sehingga para tetangga berdatangan untuk melihat apa yang terjadi.
Kemudian sampailah berita itu kepada martua Tuan Manorsa, yaitu Raja Ompu Lamak Nabolon Pasaribu-Hebeahan. Setelah melihat keadaan ompung boru Pasaribu, maka Tuan Manorsa pun terhentak sadar akan perbuatanya yang sangat keji itu dan dia pun ketakutan mendengar kemarahan mertuanya. Maka dengan cepat Tuan Manorsa pergi meninggalkan ompung boru Pasaribu dengan 3 orang anak yang masih kecil-kecil yaitu Sorta Malela, Taraim, dan Soimbagon dalam keadaan menangis.
Hal itulah yang menyebabkan ompung boru Pasaribu meninggal dunia dan beliau di kebumikan di kampung (Huta) Simargalung, dan Raja Ompu Lamak Nabolon Pasaribu-Habeahan masih terus marah dan mencari Tuan Manorsa kemana pergi melarikan diri.
Rupanya Tuan Manorsa pergi melarikan diri ke kampung Sitonggi-tonggi Pollung Dolok Sanggul.
Disana dia meminang seorang wanita menjadi istrinya yaitu ompung boru br. Tamba, dan akhinya mereka tinggal/bermukin disana.
Pada waktu Tuan Manorsa bermukim di kampung Sitonggi-tonggi Pollung Dolok Sanggul, dalam hatinya dia berniat untuk dapat tinggal selamanya bersama-sama Raja Marbun (yang empunya kampung itu), maka dia pun berusaha bagaimana caranya supaya Raja Marbun mau menerimanya.
Maka Tuan Manorsa pun mejalankan Torsa-Torsanya untuk memikat hati Raja Marbun. Dimana Raja Marbun pun merasa tertolong oleh tenaga Tuan Manorsa untuk mengikat kerbau sebelum di potong.
Dan Tuan Manorsa pun sangat sering mentraktir (manggalang) marga Marbun di kedai (lapo tuak) agar dia disukai penduduk disana. Hingga pada suatu waktu Tuan Manorsa pernah menancapkan sebatang kayu pohon karet (gorat) di halaman rumahnya sebagai tanda mengikat kerbau yang akan dipotong, dan lama kelamaan kayu (pohon karet) itu pun menjadi tumbuh dan di sebutlah “Gorat ni Purba”.
Walaupun demikian, ternyata Raja Marbun tidak menginginkan Tuan Manorsa untuk tinggal menetap di kampung mereka apa lagi untuk menjadi Raja (penguasa), maka dengan diam-diam Raja Marbun pun memberitahukan keberadaan Tuan Manorsa kepada Raja Ompu Lamak Nabolon Pasaribu bahwa Tuan Manorsa berada di kampung mereka yaitu di Pollung.
Setelah Raja Ompu Lamak Nabolon Pasaribu mengetahui kabar keberadaan Tuan Manorsa dari Raja Marbun, maka Raja Ompu Lamak Nabolon Pasaribu pun langsung mengejar Tuan Manorsa ke Pollung maka Tuan Manorsa pun ketakutan dengan ompung boru br. Tamba
Dari ompung boru Tamba selama bermukim di Pollung di karuniai 1 orang anak laki-laki yang diberi nama Raja Binuang.
Nama Raja Binuang adalah nama yang sesuai dengan keberadaan Tuan Manorsa yang merasa di buang oleh Raja Marbun karena tidak mau menerima Tuan Manorsa tinggal selamanya di Pollung, maka Tuan Manorsa pun segera hijrah ke kampung mertuanya di daerah Tamba untuk menyelamatkan diri.
Sebelum hijrah ke kampung Tamba, Tuan Manorsa meninggalkan dan menyembunyikan seperangkat gong (ogung) di salah satu kebunnya (?)

Dikampung mertuanya kampung Tamba, Tuan Manoras merasa aman karena tidak mungkin lagi Raja Ompu Lamak Nabolon Pasaribu-Habeahan berani datang ke sana.
Di kampung Tamba lahirlah anak ke II dari ompung boru br. Tamba yang di beri nama Raja Hinonghop. Nama itu pun disesuikan dengan keadaan, dimana mertua Tuan Manorsa yakni Raja Tamba sudah melindungi (manghophop) dan mengomgom Tuan Manorsa serta cucunya.
Tuan Manorsa pun merasa aman atas perlindungan mertuanya Raja Tamba dan kedua anaknya Raja Binuang dan Raja hinonghop.

PEJALANAN TUAN MANORSA HINGGA KE HARANGGAOL ( SIMALUNGUN )

Sebagai seorang dukun, kesukaan (hobby) atau kebiasaan Tuan Manorsa adalah berburu dengan “Marultop”. Dia suka berkelana kemana-mana untuk mencari tempat yang lebih baik buat kehidupan keluarganya kelak.
Suatu hari dia berburu (mangultop) seekor burung Perkutut (namanya Anduhur Bonbon), karena burung itu tidak langsung jatuh dan masih bisa terbang kemana-mana, Tuan Manorsa pun terus mengikutinya dan akhirnya dia pun tiba di suatu kampung yang bernama Saribu Dolok, disanalah dia menangkap burung Perkutut yang di ultopnya itu, kemudian dia memotongnya dan dari dalam perut burung itu banyak butiran-butiran padi dan butir padi itu ditanam nya dan ternyata hasilnya tumbuh dengan subur.
Setelah melihat pertumbuhan butir padi tersebut timbul dalam pikiran nya bahwa daerah ini layak untuk pemukiman, Tuan Manorsa pun ingin tinggal menetap di tempat itu, dengan maksud agar jauh dari martuanya dan hidup lebih tenang, maka dia bergegas pulang ke kampung Tamba untuk membawa istri (ompung boru Tamba) beserta kedua anaknya Raja Binuang dan Raja Hinonghop.
Setelah tiba di kampung Tamba, ternyata ompung boru Tamba sedang dalam keadaan sakit keras lalu meninggal dunia.
Karena Tuan Manorsa sudah bertekad akan pindah ke Saribu Dolok yaitu tanah Simalungun maka Tuan Manorsa dengan cara baik-baik berpamitan kepada martuanya untuk membawa kedua anaknya ke Saribu Dolok mengingat tumbuhnya padi yang sudah di tanamnya sangat subur.
Karena Tuan Manorsa telah menjadi seorang duda, maka dia pergi berkelana turun ke arah Harangan Gaol dengan maksud mencari pendampingnya untuk di jadikan ibu untuk kedua anaknya.
Didalam perjalanan di suatu tanjakan ada satu desa yang bernama Huta Suah (Suah = Toruan) yang dikuasai oleh Raja bermarga Simbolon.
Dalam perjalan itu Tuan Manorsa ditimpa hujan lebat, dan dalam keadaan kedinginan dia meminta berteduh di rumah raja marga Simbolon itu.
Karena dinginnya perasaan Tuan Manorsa dia memohon kepada tuan rumah agar dapat duduk dekat api di dapur untuk menghangatkan tubuhnya.
Kemudian istri raja itu mempersilahkan Tuan Manorsa menuju dapur.
Setelah merasa hangat dia mencoba mencari perhatian dengan menunjukan kebolehannya dalam ilmu perdukunan, lalu dia menekan tungku api (Dalihan) yang terbuat dari batu dengan jarinya, sehingga tungku itu pun menjadi pecah dan hancur.
Lalu Tuan Manorsa bertanya kepada istri raja Simbolon itu ; di buat dari bahan apa tungku api ini inang, kenapa begitu mudah pecah?
Istri raja itu pun menjawab ; dibuat dari batu yang keras oleh raja Simbolon di kampung ini amang. Lalu kenapa begitu mudah pecah?, Dan Tuan Manorsa pun menekan batu yang lain sehingga pecah pula. Tuan Manorsa berjanji akan membuatkan tungku yang lebih bagus.
Melihat kejadian itu istri raja itupun sangat tercengang dan merasa ketakutan, sehingga memberitahukan kepada raja Simbolon.
Lalu pada minggu berikutnya Tuan Manorsa datang lagi ke Huta Suah itu, juga di timpah hujan oleh hujan yang amat deras, kemudian Tuan Manorsa minta berteduh lagi di rumah itu dan memohon supaya di nyalakan api. Karena Tuan Manorsa merasa sangat kedinginan, kemudian dia memeluk api yang dinyalakan oleh istri raja Simbolon itu dan menaruh kakinya di atas api yang membara, dan ternyata kaki Tuan Manorsa tidak terbakar dan tidak terjadi apa-apa.
Istri raja Simbolon itupun semakin terheran-heran dan terkagum-kagum sehingga hal itu di beritahukan lagi kepada raja Simbolon. Oleh sebab itulah timbul niat dalam hati istri raja Simbolon ingin menjadikan Tuan Manorsa menjadi menantunya (Hela) .
Lalu Raja Simbolon menganjurkan kepada istrinya supaya putri (boru) nya dibujuk agar mau di peristri oleh Tuan Manorsa, tetapi Putri Raja Simbolon tidak mau menuruti permintaan orang tuanya, karena perbedaan umur mereka yang sangat berbeda (tidak sepadan).
Setelah Putri Raja itu di bujuk oleh istri raja Simbolon, akhirnya Putri Raja itu mau menjadi istri Tuan Manorsa dengan syarat : apa yang diminta oleh Putri Raja Simbolon supaya di turuti oleh orang tuanya.
Jika menjadi istri Tuan Manorsa, maka pernyataan saya “Bahwa suatu saat kelak Tuan Manorsalah yang menjadi Raja di tanah dan air yang ada di Huta Suah ini”
Karena Raja Simbolon sudah menginginkan Tuan Manorsa menjadi menantu (Hela) nya, maka dibuatlah suatu permufakatan perjanjian (parpadanan) bahwa pada suatu kelak tanah dan air yang ada di Huta Suah menjadi milik mereka (keturunan Tuah Manorsa).
Sejak itu jadilah Tuan Manorsa menjadi hela Raja Marga Simbolon dan kedua anaknya Raja Binuang dan Raja Hinonghop yang dibawahnya dari Saribu Dolok ke Huta Suah Simalungun yang disebut sekarang Harangan Gaol.

Selama hidupnya Raja Simbolon masih tetap sebagai Raja di Huta Suah. Dan setelah Raja Simbolon meninggal dunia Tuan Manorsalah yang menjadi Raja, sebagaimana yang sudah di janjikan dan namanya berubah menjadi Huta Suah.
Dalam perjalanan hidupnya, Tuan Manorsa cukup lama menjadi Raja di Huta Suah dan di ikuti oleh keturunannya, dan di kemudian hari nama Huta Suah diganti/ dibuat menjadi Huta Purba Saribu .

Di Purba Saribulah terletak makam Tuan Manorsa, yang sudah 2X di renovasi oleh keturunannya yakni Tahun 1963 dan Tahun 1974. Sedangkan di Simamora Nabolak Tapanuli Utara (tempat kelaharinnya) di bangunlah satu tugu peringatan yang disebut “Tugu Tuan Manorsa”.
Demikianlah Sejarah Kehidupan Ompu Tuan Manorsa dari tempat kelahiran Simamora Nabolak hingga ke Harang Gaol (Tanah Simalungun).

NB
1. Di Jakarta sudah ada berdiri Paguyuban Marga Purba dari Harang Gaol yang bernama “PURDASAGA” Singkatan dari “PURBA SARIBU BANDAR SARIBU TANGGA BATU”.
2. Karena begitu bagusnya kepemimpinan Tuan Manorsa di Harangan Gaol, oleh marga Simbolon Raja Binuang di ganti menjadi Raja Ginonggom, karena Raja Simbolon mangomgom dan manghophop kedua cucunya dan Raja Ginonggom menjadi SUNGGU RAJA. Sedangkan Raja Hinonghop namanya tetap
3. Raja Hinonghop adalah Ompung dari PURBA TONDANG dan PURBA TAMBUN SARIBU (yang bungsu)
4. Sejarah kehidupan Ompu Tuan Manorsa ini di terjemahkan dari buku Tarombo Pompara ni Tuan Manorsa yang dikumpulkan dan di susun oleh Guru A. Purba (Almarhum) – Ompu Parasian, pensiunan Kepala SMP Negeri Sidikalang Dairi.
5. Penterjemah mohon maaf jika dalam bahasa penyampaian, atau menterjemahkan dari bahasa daerah ke bahasa indonesia sangat kurang sempurna

Penterjemah :

St. T.P. Purba / Op. Duta
Ketua Punguan Pomparan Tuan Manorsa- Boru & Bere Sejabodetabek
Hingga 12Maret 2013

 

26/03/2019, 9:16 pm – gultom125.com: Mauliate, izin di web
26/03/2019, 9:17 pm – I Ato Purba: Ok 👍👍👍

Op. Sonar Perayaan natal 2018 dan tahun baru 2019

Akhirnya setelah berjalan 18 tahun terbentuknya punguan Op. Sonar Gultom, maka pertama kali diadakan perayaan natal dan bona tahun 2019 pada hari minggu 6 jan 2019 di Bekasi Timur Jati Mulya Jl. Cendrawasih. Mulai 11.30 dengan makan bersama, kebaktian kemudian acara bebas.

Dengan semangat dan keinginan yang kuat dari Abang A. Boris Gultom, bisa berjalan persiapan dengan baik, tak luput ini adalah karena pengalaman beliau yang dilakukan di lain punguan/tempat.

img-20190106-wa0025
Setelah setelah persiaan, meunggu undangan

Walaupun dengan waktu yang terbatas hanya sebulan lebih persiapan acara ini, bisa dilaksanakan, bahkan hampir semua berjalan dengan baik. Ini adalah awal dari mulainya ada acara sehingga tahun 2020 kemudian akan diharapkan bisa lebih baik dalam persiapan dan acara berjalan.

img_20190106_141824
pembukaan/huhuasi
img-20190106-wa0044
img-20190106-wa0051
img-20190106-wa0037

Terima kasih kepada Abang serta akkang A.Boris Gultom serta semua yang mendukung dalam persiapan acara ini dan kepada ketua punguan Op.sonar Gultom A.Eva Gultom yang begitu setia dan sabar untuk mengayomi kami anggota punguan ini.

IMG_20190106_125958.jpg
Penyampaian tudu-tudu sipanganon dari boru-bere (selamata natal dan tahun baru)
img-20190106-wa0041
Liturgi pertama (Penciptaan)
img_20190106_133153
Liturgi kedua
img_20190106_133400
Liturgi ketiga
img_20190106_141241
Liturgi keempat
img-20190106-wa0134
Liturgi kelima (Keselamatan)

tentu tak lupa terima kasih kepada donatur yang telah membagikan berkat Tuhan, dan kepada semua anggota punguan Op. Sonar yang telah meluangkan waktu hadir.

img_20190106_140600
Kotbah kebersamaan
img-20190106-wa0151
Sambutan ketua Punguan Op. Sonar

Selamat hari natal 2018 dan tahun baru 2019, semoga di tahun 2019 ini khususnya punguan Op. sonar Gultom bisa lebih baik dan dukungan anggota lebih solit sehingga bisa terlaksana yang dinginkan dalam kebersamaan seperti tema yang dibuat saat ini yaitu “Kebersamaan dan rukun akan menerima/saluran berkat (Maz 133:1) Ini adalah harapan semua anggota punguan….

img-20190106-wa0158
img-20190106-wa0159
img-20190106-wa0160
img-20190106-wa0156

Dan anggota khususnya Gultom keturunan Op. Sonar yang berada di Jakarta sekitarnya bisa ikut serta dalam punguan ini, harapannya.

Tuhan memberkati.

img-20190106-wa0162
IMG-20190106-WA0161.jpg

Pesta pernikahan

img_20170225_170835_hdr

Judulnya saya buat pesta, karena memang benar-benar pesta yang biasa dilakukan dalam pernikahan di adat batak. Harapannya minimal keturunan batak yang sudah lahir perantauan ini bisa mengenal adat leluhurnya, karena adat ini telah dimulai sejak nenek moyang orang batak. Tapi pada dahulunya adalah pesta yang dilakukan sampai 7 hari 7 malam, kebayangkan!. Sekarang ini sudah disimpulkan menjadi “ulaon sadari” artinya pekerjaan disingkat menjadi sehari,mulai dari melamar, memberikan “sinamot” mahar dan pesta. Mangkanya kalau dalam pesta adat batak bisa dari siang sampai malam, karena padatnya acara.

Mulai dari penerimaan tamu “hula-hula” masuk gedung dan makan bersama. Pada acara ini, kedua belah pihak “parboru” pihak manten perempuan dan “paranak” pihak manten laki-laki sudah ditentukan tempat duduknya,sehingga masing-masing mengundang masuk hula-hula dan disambut dengan tor-tor disertai dengan menerima bawaan dari hula-hula.

Selesai makan bersama maka, mulai acara dalam meminang walaupun sebelumnya sudah ada acara-acara sebelumnya, sebelum kejenjang pemberkatan pernikahan dan pesta, maka pihak paranak selaku “suhut” pemilik acara akan menyampaikan “pinggan panungkuan” salah satu syarat di dalam piring ada: beras, sirih dan uang. ini adalah tempat dan berkat serta transaksi sebagai dimulainya acara. Setiap penyampaian pertanyaan dan jawaban atas pertanyaan maka disampaikan melalui pantun yang mana parboru menanyakan tujuan diundang dan makan bersama, maka paranak akan menjawab dengan tujuan rasa sukacita dan membagi kebahagian. Dalam hal ini tentu siparboru masih akan menanyakan bahwa dengan adanya bawaan “tudu-tudu sipanganon” lambang makanan berbentuk hewan ini ada tujuan yang akan disampaikan. Maka paranak akan menyampaikan secara singkat pertemuan kedua mempelai yang jatuh hati dan dipersatukan dalam perberkatan nikah. Tentu siparboru akan merasa senang dan  dengan pantun menjawab bahwa kalau memang dua remaja sudah dipersatukan berarti suatu sukacita kami akan persiapkan tempat sebagai sinamot, yang pada jaman dulunya ada kerbau, kuda, sampi, lembu mas dan uang. Dengan segala kerendahan hati sebelumnya memuji parboru yang baik hati,bahwa dengan alasan semua yang diminta kerbau, kuda, lembu sudah ditinggal di bona pasogit. Sehingga disampaikanlah agar bisa diterima dengan senang hati dalam satu penyampaian berbentuk uang. Dengan bernegosiasi yang dilakukan dengan pantun dan terakhirnya setuju dengan nilai yang sudah disampaikan yaitu berupa uang dan ulos herbang sebagai berkat dari parboru. Dalam tanya jawab kedua belah pihak didampingi oleh suhut kakak beradik, parboru dan hula-hula, dan “raja parhata” protokol akan selalu meminta pendapat kepada pendamping sebelum memutuskan dan menjawab atau bertanya. Disamping uang sinamot ada juga uang untuk keluarga yang membesarkan, merawat dan keluarga terdekat sebagai upah dan terakhir sebagai “pinggan panganon” berupa uang lelah kepada yang hadir. Didalam acara ada tulang, dimana marga dari ibu paranak yang hadir dalam hal ini marga manten perempuan tidak semarga maka akan disampaikan sebagai berbagi sukacita berupa daging, minuman dan uang (tintin marangkup) dan mengajak agar bisa satu kedudukan/tempat, walaupun bukan borunya yang berpesta.

Dalam hal ini disebut upah tulang/titin marangkup.

Setelah selesai memberikan uang permintaan, kemudian paranak akan meminta berkat melalui pemberian ulos kepada hela sebagai ulos hela dan sarung, dimana ini adalah sebagai lambang berkat telah di setujui/diterima dan berkat kepada keluarga baru/penganten. Kemudian akan diberikan “ulos passamot” artinya berkat yang telah berlelah dalam mengurus anak sampai besar kepada orang tua manten laki-laki, dan kemudian kepada keluarga terdekat keluarga paranak sebagai kata nasihat berupa ulos.

Kemudian masing-masing dari keluarga rombongan parboru mulai dari suhut parboru, kemudian hula-hula.

Pada saat penyampaian ulos biasanya akan disampaikan pantun sebagai berikut :

——————————————————————–

Dakka ni arirang, peak di tonga onan

Badan muna naso jadi sirang, tondimu masigomgoman.

Ribbur ni pakkat tu ribbur ni hotang

Sai tudia pe hamu mangalakka, sai tusi ma hamu dapot pansamotan

Mangula ma pangula, dipasae duhut-duhut

Molo burju marhula-hula, dipadao mara marsundut-sundut

Ruma ni ijuk tu ruma gorga

Sai tubu ma anak muna na bisuk dohot boru muna na lambok marroha

———————————————————————–

Dan jika sudah selesai dari rombongan pihak parboru memberikan ulos kepada paranak maka giliran keluarga paranak mulai dari hula-hula menyampaikan nasihat berupa ulos kepada penganten.

Demikian sekilas acara pesta pernikahan di adat batak, yang memang sengaja tidak begitu detail karena tujuannya agar bisa memberikan gambaran acara.

Mudah-mudahan coretan saya ini berguna terutama kepada keturunan orang batak yang telah besar diperantauan ini. Saya sendiri memang kurang begitu paham secara detail karena boleh dibilang dari SMA sudah di perantauan ini.

Dan bagi saudara-saudara yang lebih mengerti mohon dikoreksi untuk membuat lebih baik.

img_20170225_130101_hdr
Inanta soripada
img_20170225_124337_hdr
IMG_20170225_124318_HDR.jpg
IMG_20170225_125251_HDR.jpg

Untuk sedikit memberi gambaran maka saya buatkan urutan untuk prosesi pesta unjuk/pernikahan

Sebelumnya adalah Patua hata yaitu langkah awal paradaton yang bertujuan meningkatkan hubungan muda-mudi  yang dilanjutkan dengan acara mempersiapkan acara selanjutnya yaitu sinamot “mahar” dalam acara marhusip. Sehingga pada saat unjuk membicarakan sinamot hanya sebagai preforma.

Jika si penganten pria tidak mengambil boruni tulangnya/pariban, maka ia harus melakukan kunjungna ke rumah tulangnya memberitahukan bahwa calon penganten yang akan di ambil adalah bukan borunya agar bisa dianggap sebagai borunya.

Kemudian acara selanjutnya adalah martonggo raja atau marria raja  mempersiapkan acara unjuk secara detail baik sebagai raja parhata, protokol, penanggung jawab makanan, penerima tamu, pembagian undangan dll.

Martonggo raja dilakukan ditempat yang bukan menjadi suhut bolon/bolahan amak, yaitu jika alap jual maka di rumah paranak dan taruhon julan dirumah parboru.

Selanjutnya sebelum acara pemberkatan dan unjuk, maka dipersiapkanlah untuk pemberangkatan penganten ke pemberkatan yaitu marsibuha-buhai, makan bersama kedua belah pihak. Setelah pemberkatan maka kedua belah pihak berangkat ke tempat unjuk.

Adapun acara di unjuk adalah

  1. Setelah semua undangan masuk gedung unjuk,
  2. Paranak menyampaikan tudu-tudu sipanganon kepada parboru dan parboru menyerahkan ikan mas dan setelah selesai saling menyerahkan berdoa untuk makan bersama.
  3. Pada saat makan bersama kedua suhut mengelilingi ruangan dan menyampaikan ucapan terima kasih atas kedatangannya.
  4. Seusai makan maka dibagikan jambar juhut.
  5. Paranak menerima tumpak dari dongan tubu, boru, bere, ale-ale.
  6. Dilanjut dengan acara percakapan adat dimana kedua belah suhut bermusayawarah menentukan raja parhata dan minta bimbingan dari hula-hula.
  7. Parboru meminta paranak menyerahkan pinggan panungkunan
  8. Parboru menayakan maksud dan tujuan menyuguhkan hidangan
  9. Paranak menjelaskan ucap syukur dalam mengadakan pesta unjuk.serta menyampaikan panggoki sinamot.
  10. Parboru minta waktu untuk berunding dengan boru, hula-hula sebagai keputusan diterima tidaknya, kemudian menjawabaya serta jambar suhi ni ampang na opat, upa parorot, todoan dan surung-surung kepada oppungnya dan terakhir pinggan panganan..
  11. Paranak minta waktu untuk berunding dengan boru, hual-hula sebagai usulan dierima atau tidak, kemudian menyerahkan panggohi ni sinamot dan jambar serta surung-surung.
  12. Parboru meminta paranak bersama-sama dengan suhut parboru menghadap paman guna menyampaikan tintin marangkup, setelah kemudian meminta apakah ada permintaan lain dari paranak?
  13. Paranak meminta agar memberikan ulos herbang dan ulos tinonun sadari.
  14. Parboru memberikan ulos kepada pihak paranak.
  15. kemudian penyampaian kata-kata doa reste dengan lambang ulos, kemudian pembagian olop-olop, dan diakhiri dengan doa oleh pihak parboru.

legenda Namboru Saroling

Legenda ini,  saya sadur dari http://mansoncarlos.wordpress.com/2012/09/14/legenda-namboru-saroding-dalam-versi-bahasa=indonesia. (terima kasih Abang atas blognya)

Ada beberapa yang saya rubah sesusai dengan cerita yang pernah saya dengar dari Bapak Uda Sitinjak(alm) tahun 1984.

Jika ada hal yang kurag lebih agar bisa di perbaiki demi informasi yang lebih akurat.

Suatu hari menjelang siang, Namboru Boru Saroding pergi ke Danau Toba untuk mandi sekaligus mencuci pakaian, tepatnya di tepi danau tempat tinggal orang tuanya yang terletak di antara Palipi-Mogang (Kecamatan Palipi Kab.Samosir) yang bersebelahan dengan Rassang Bosi dan Dolok Martahan. Boru Saroding terkenal dengan kecantikannya, konon pada jaman itu Boru Saroding diklaim sebagai Putri tercantik dari seluruh Putri/Boru Pandiangan. Karena kecantikannya, banyak Pemuda yang datang dari kampung lain bahkan dari seberang Danau Toba untuk merayunya (Manandangi) akan tetapi tak satupun yang mampu menaklukkan hatinya baik yang kaya ataupun yang tampan. Pemuda yang datang, pulang tanpa hasil. Namun pemuda-pemuda tersebut juga tidak merasa sakit hati karena Boru Saroding menyambut mereka dengan sopan dan ramah.

Boru Saroding yang dikenal pendiam, sopan, taat akan orang tua dan baik hati terhadap teman-temannya, pandai membuat Ulos Batak. Dia sangat ulet dalam pekerjaannya. Ke-uletannya itu membuat orang tuanya cukup heran sekaligus bangga terhadap putrinya. Boru Saroding yang dalam adat Batak, mempunyai sifat dan sikap yang sangat baik, merupakan calon menantu idaman yang sangat dicari oleh putra raja.

Ketika Boru Saroding sedang mandi dan membilas rambutnya yang panjang dan indah di tepi Danau Toba, tiba-tiba sebuah sampan yang ditumpangi seorang pemuda tampan dan berwibawa yang berdiri di atas sampan datang menghampiri Boru Saroding. Melihat pemuda yang mengenakan Ulos Batak dan melihat tampangnya, Boru Saroding berpikir bahwa pemuda tersebut bukanlah seorang nelayan biasa seperti yang sering dilihat disekitar pantai Danau Toba. Ketika Pemuda bersampan tersebut semakin dekat ke tempat dimana Boru Saroding berkeramas jeruk purut (Anggir dlm Bahasa Batak) hati Boru Saroding berdebar dan bertanya-tanya dalam hati,

“Siapakah pemuda ini?” seraya bergegas dengan cepat membersihkan rambutnya, karena merasa malu dipandangi seorang pemuda sedang mandi.

Dengan tergesa-gesa Boru Saroding pun selesai mandi dan beranjak dari pantai menuju kediaman orang tuanya. Akan tetapi ketika Boru Saroding hendak melangkah, sang Pemuda pun berkata kepada Boru Saroding,

“Putri Raja.. kenapa tergesa-gesa pulang??” tanya pemuda tersebut kepada Boru Saroding. Seketika langkah Boru Saroding pun terhenti karena terkejut dan seraya melirik ke arah Pemuda yang memanggil nya.

“Pemuda ini tampan dan berwibawa ya” penilaian Boru Saroding dalam hati.

“Kebetulan masih banyak pekerjaan saya yang harus saya selesaikan di rumah kami” dalih Boru Saroding kepada Pemuda tersebut.

Si Pemuda Tampan dan Berwibawa tersebut pun menghampiri Boru Saroding seraya memperkenalkan diri. Tempat asalnya dari Rassang Bosi (Desa Sabulan Kec.Sitio tio) yang disebut Ulu Darat kepada Boru Saroding. Dengan hormat Sang Pemuda pun menyampaikan maksud dan tujuannya menemui Boru Saroding sekaligus berniat agar Boru Saroding mau memperkenalkan pemuda tersebut kepada kedua orang tua Boru Saroding. Karena dari awal Boru Saroding melihat pemuda tersebut sudah terkesan dengan Ketampanan dan Kewibawaan sang pemuda, Boru Saroding pun merasa senang dan menyetujui permohonan sang pemuda, merekapun bergegas berjalan bersama menuju rumah Boru Saroding.

Ketika Boru Saroding dan Pemuda tersebut tiba di rumahnya, seketika Orangtua dan saudara-saudarinya merasa kagum akan tampang dan cara bicara sang pemuda yang datang bersama Boru Saroding, mereka serasa disulap melihat sang pemuda tersebut yang berbadan kekar tersebut.

Singkat cerita, Sang Pemuda tersebutpun menyampaikan niat baiknya yang ingin mempersunting Boru Saroding sebagai istrinya kepada Kedua Orang Tua dan Saudara-Saudari Boru Saroding, Guru Solandason (Ayah dari Boru Saroding) meminta tanggapan dari putrinya Boru Saroding, apakah putrinya Boru Saroding menyukai pemuda tersebut, Boru Saroding pun menyatakan bahwa putrinya suka dan mau menjadi istri Pemuda tersebut.

Tak lama kemudian, Guru Solandason memberitahukan kepada Sanak saudaranya. Dan selanjutnya Pemuda tersebut dan Boru Saroding pun mendapat restu dari kedua orangtua Boru Saroding. Kemudain Upacara Adat Pernikahanpun segera dilaksanakan di tempat tinggal Boru Saroding. Setelah acara adat selesai merekapun diberangkatkan menuju tempat dimana Suami Boru Saroding tinggal.

Merekapun naik sampan menuju Rassang Bosi, akan tetapi Boru Saroding sangat terkejut dikarenakan mereka begitu cepat sampai disana. Boru Saroding pun semakin heran karena suaminya menceritakan tempat tinggalnya di atas gunung di tengah hutan, Tombak Ulu Darat. Namun Boru Saroding tidak terlalu kawatir karena ketika mereka berjalan melewati jurang yang dalam dan terjal ditambah hutan yang begitu liar, Sang Suami menuntun langkahnya, memegang tangan Boru Saroding sehingga Boru Saroding tak sedikitpun merasa lelah bahkan suaminya terlihat kuat tanpa keringat melewati daerah yang cukup melelahkan untuk di lalui.

Tidak berapa lama kemudian, Boru Saroding dan Suaminya tiba di rumah Suaminya. Merekapun istirahat hingga tertidur pulas sampai keesokan harinya ketika menjelang pagi Boru Saroding pun terbangun namun Boru Saroding tidak melihat Suaminya sehingga Boru Saroding melihat ke samping rumah dan ke belakang rumah. Kemudain ketika Boru Saroding hendak melihat suaminya ke depan rumah, Boru Saroding pun tersentak karena terkejut melihat seekor ular berukuran sangat besar melintas di halaman depan rumah suaminya. Tiba-tiba dengan sangat tergesa-gesa Boru Saroding menutup pintu rumah karena merasa sangat terkejut dimana Boru Saroding sebelumnya tidak pernah melihat ular yang ukurannya sangat besar dan memiliki kepala yang tidak seperti kepala ular pada umumnya. Dengan rasa takut yang luar biasa dan rasa heran, Boru Saroding pun duduk diam terpaku di dalam rumah. Tak lama kemudian, Boru Saroding pun mendengar suara Suaminya memanggil namanya. Sehingga Boru Saroding dengan segera bergegas membukakan pintu rumah untuk suaminya dan langsung mengatakan “Tadi saya melihat seekor ular besar dengan kepala yang aneh melintas dari halaman rumah kita menuju pohon besar di hutan” kata Boru Saroding kepada Suaminya.

Kemudian Suaminya menjawab pertanyaan Boru Saroding “Tidak usah takut, ular itu ular yang baik dan tidak mengganggu”.

Mereka menjalani dan melalui hari ke hari dengan kebahagian karena Suami Boru Saroding selalu memenuhi kebutuhan mereka tanpa kekurangan bahkan Suami Boru Saroding cukup pintar menghibur Boru Saroding dengan canda dan tawa, serta memiliki perhatian dan kasih sayang yang begitu besar kepada Boru Saroding. Dia berusaha mencarikan buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan yang mampu membuat kecantikan Boru Saroding terawat. Semua hal tersebut dilakukan dan dipenuhi Suaminya dengan sangat sangat mudah tanpa ada keluhan apapun sehingga mereka hidup dalam kebahagian melalui hari-hari rumahtangga mereka.

Akan tetapi semakin lama Boru Saroding pun merasa heran yang dari hari ke hari semakin bertambah kecurigaanya terhadap cara hidup Suaminya yang penuh kemudahan hingga pada suatu saat tanpa sengaja Boru Saroding melihat Suaminya di bagian atas rumah (Para-Para dlm Bahasa Batak) sedang berubah wujud menjadi seekor ular berukuran sangat besar persis seperti ular yang pernah Boru Saroding lihat sebelumnya. Namun Boru Saroding berura-pura tidak melihat kejadian tersebut karena merasa takut Ular tersebut marah kepada Boru Saroding. Kemudian ular tersebut melintas keluar dari rumah menuju hutan hingga Boru Saroding tinggal sendirian di dalam rumah.

Boru Saroding merasa sangat terpukul dan merasa menyesal yang begitu mendalam karena tanpa berpikir panjang dan tanpa mengenal lebih jauh siapa laki-laki tersebut hingga menerima permintaannya menadi istrinya karena Boru Saroding telah mengetahui bahwa Suaminya bukan manusia biasa. Menjelang sore, suaminyapun kembali dari hutan membawa bekal berupa buah-buahan, daging Rusa, Burung. Kemudian Boru Saroding pun bergegas menyambut suaminya membawa hasil yang dibawa suaminya ke dapur untuk dimasak dan dijadikan untuk makan malam. Setelah Boru Saroding selesai menyiapkan makan malam, merekapun makan malam bersama di rumah yang berada di tengah hutan rimba tersebut dimana selama ini suaminya tinggal. Setelah usai makan malam, merekapun berbincang-bincang dan dengan jujur Suaminya memberitahukan siapa dia sebenarnya kepada istrinya Boru Saroding,

“Saya sebenarnya adalah Penguasa Ulu Darat, yang bisa berubah-ubah wujud dari manusia menjadi ular dan dari ular menjadi manusia” tegas Suaminya kepada Boru Saroding. Akan tetapi Boru Saroding cukup pintar menyembunyikan rasa takut dan penyesalannya yang sangat dalam kepada suaminya. Boru Saroding hanya tersenyum kepada Suaminya, sehingga suaminya merasa senang karena melihat istrinya Boru Saroding tidak terkejut atas pengakuannya yang jujur kepada Boru Saroding.

Hingga suatu ketika, kedua saudara Boru Saroding Raja Humirtap dan Raja Sonang, mereka sedang kehutan diperintah ompung ta parhutala mencari bahan2 bangunan utk membuat Rumah parsattian. Sementara di lain sisi sebenar nya boru saroding sudah lama tdk kliahatan/hilang di bawa amang boru kita dan tdak di ketahui keberadaan nya. Dan ketika Raja Humirtap dan Raja Sonang menebang sebuah pohon Rotan yg sangat tinggi, ujung rotan tersebut tepat diatap rumah namboru. Dan mereka mengikuti ujung rotan tersebut dan terkejut bisa bertemu lagi denggan namboru boru saroding.

Boru Saroding pun merasa sangat bahagia karena sudah dikunjugi oleh saudaranya sehingga dengan sangat gembira, Boru Saroding pun menyajikan berbagai aneka makanan dan buah-buahan kepada kedua saudaranya tersebut. Sembari menikmati makanan yang banyak, mereka bercerita dan berbincang-bincang hingga rasa rindu mereka terobati hingga waktu tidak terasa sudah berlalu lama. Senja pun tiba, seperti biasanya Boru Saroding tahu jika Suaminya akan segera kembali dari hutan dan dengan tergesa-gesa Boru Saroding berusaha mengajak kedua saudaranya untuk bersembunyi di bagian atas rumah di bawah atap karena Boru Saroding sudah mendengar suara-suara pertanda suaminya akan datang. Karena Boru Saroding merasa ketakutan dimana Boru Saroding tahu bahwa ular tersebut mau memakan manusia, kedua saudaranya pun bersembunyi agar tidak terlihat oleh Suami Boru Saroding. Suami Boru Saroding pun tiba di rumah, tiba-tiba suaminya tampak heran dan sepertinya mencium sesuatu yang lain dari yang lain dan bertanya “Sepertinya saya mencium darah manusia lain di rumah ini” kepada isterinya Boru Saroding. Dengan tergesa-gesa Boru Saroding berupaya mengalihkan pembicaraan dengan cepat menghidangkan makan malam suaminya. Kemudian Suami Boru Saroding selesai makan malam, selanjutnya Boru Saroding mengajak Suaminya untuk beristirahat. Ketika mereka hendak beristirahat, sesekali dengan tampak yang penuh curiga, Suami Boru Saroding bertanya, “Saya mencium ada orang lain di rumah ini?” tanya suaminya kepada Boru Saroding.

“Ah… sudahlah, itu hanya perasaanmu saja, tidak ada orang lain di rumah ini” jawab Boru Saroding dengan rasa takut yang luar biasa kepada Suaminya.

“Ini sudah larut malam, sebaiknya kita istirahat saja” ajak Boru Saroding kepada suaminya yang masih tetap bertingkah aneh penuh curiga.

Karena tidak tahan lagi Boru Saroding menyembunyikan rasa takutnya kepada suaminya, kemudian Boru Saroding pun memberitahukan keberadaan kedua saudaranya kepada Suaminya,

“Ampuni .. saya suamiku, karena aku telah membohongimu” kata Boru Saroding kepada Suaminya.

“Benar di rumah ini ada orang lain selain kita, karena saya beripikir engkau akan marah jika engkau tahu saudara-saudaraku datang  kita ke tempat ini” aku Boru Saroding dihantui rasa takut yang sangat besar kepada Suaminya.

Tapi amang boru mengetahui kebohongan namboru. Dan berkata ” Ai na ro do hape hula” i,..boasa dang di paboa hamu tu auu? Jala boasa di tabunihon.

Setelah pagi hari tiba, kedua saudara Boru Saroding berniat untuk kembali ke Samosir, sehingga kedua saudaranya memberitahu kepada Boru Saroding bahwa mereka akan kembali ke Samosir pagi ini. Boru Saroding pun mengajak kedua saudaranya untuk mohon pamit kepada Suaminya. Ketika hendak berpamitan, salah satu saudara Boru Saroding berkata “Lae, kami akan segera pulang ke Samosir, Lae kasih apa sama kami untuk kami bawa pulang ke Samosir?” tanya saudara Boru Saroding kepada suami Boru Saroding.

“Trimakasih Lae karena telah datang berkunjung kesini” jawab Suami Boru Saroding kepada kedua saudaranya sambil memberikan 2 (dua) buah bingkisan yang di balut kain dan diikat dengan tali kepada Pandiangan (Kedua Saudara Boru Saroding), seraya berpesan : “Hanya saja ada syarat yang harus dipenuhi oleh Lae” kata Suami Boru Saroding.

“Apa saja syaratnya Lae?” tanya kedua saudara Boru Saroding kepada suami saudarinya itu.

“Sesampainya di Samosir, bingkisan ini jangan dibuka akan tetapi lae harus menunggu hingga 7 (tujuh) hari lamanya baru Lae Pandiangan bisa membuka bungkusan ini” pesan suami Boru Saroding kepada kedua saudara Boru Saroding.

Kedua Saudara Boru Saroding menjawab “Ia Lae, akan kami penuhi pesan lae”.

Kemudian Raja Humirtap dan Raja Sonang pun pamit dan beranjak pulang melewati hutan yang cukup mengerikan, melalui lembah dan jurang-jurang yang terjal hingga kedua saudara Boru Saroding pun tiba di tepi pantai Desa Sabulan. Selanjutnya mereka menaiki sampan untuk menyebrang ke Pulau Samosir.

Setelah mereka tiba di rumah masing-masing dimana pada saat itu kedua saudara Boru Saroding sudah menikah dan tinggal dirumah bersama isteri masing-masing, mereka menceritakan perjalanan yang ditempuh kepada isteri mereka masing masing, mereka menunjukkan bingkisan (Gajut) yang mereka bawa kepada isterinya.

Raja Humirtap (Saudara Boru Saroding) bersungut-sungut karena merasa kesal dengan hanya menerima bingkisan (Gajut) kecil dari Laenya yang sudah bersusah paya mengunjungi Lae dan saudarinya di tengah hutan diatas gunung Ulu Darat tersebut. “Masa jauh-jauh dari Samosir ke Ulu Darat hanya dikasih bungkusan kecil kek gini, itupun pake syarat pula itu” kata Raja Humirtap kepada istrinya. Pendek cerita, karena tidak sabar menunggu hari yang telah dipesankan oleh Laenya ditambah rasa penasaran yang cukup besar, maka Raja Humirtap membuka bungkusan tersebut. Karena tidak sesuai dengan pesan Suami Boru Saroding, maka bungkusan yang dibuka salah satu saudara Boru Saroding tersebutpun hanya berisikan: Tanah, Kunyit, Potongan Kayu kecil dan ulat-ulat. Merasa dihina, Raja Humirtap pun marah dan mengucapkan makian terhadap suami Boru Saroding,

“Kurang ajar,,, masa kek gini cara dia menghargai saya selaku saudara laki-laki Boru Saroding. Tidak tahu sopan terhadap keluarga istrinya..!!!” kata salah satu saudara Boru Saroding lalu membuang bungkusan yang dibuka tersebut sebelum waktunya.

Kemudian Raja Humirtap membujuk dan mengajak RaaSonang (adiknya) untuk turut membuka bungkusan yang diberikan oleh Laenya tersebut, “Buka aja dik bungkusannya, mungkin isinya sama saja seperti yang telah abang buka tadi” kata Pandiangan yang tadi kepada saudaranya. Akan tetapi Pandiangan paling bungsu tetap tidak mau membuka bungkusan tersebut dan bertahan memenuhi pesan yang telah disampaikan oleh Laenya (Suami Boru Saroding). Setelah hari ke 7 (tujuh) tiba, sesuai dengan pesan Laenya, maka Raja Sonang membuka bungkusan tersebut dan ketika bungkusan tersebut dibuka, tiba-tiba keluar ulat-ulat yang jumlahnya sangat banyak dari bungkusan akan tetapi dalam hitungan beberapa detik, ulat-ulat yang tadinya keluar dari bungkusan tersebut berubah menjadi kerbau dan sapi dengan jumlah yang sangat banyak juga. Saking banyaknya jumlah sapi dan kerbau tersebut, hingga lokasi pekarangan perkampungan tersebut terlihat padat. Sementara kunyit yang keluar dari bungkusan tersebut berubah menjadi emas dengan jumlah yang cukup banyak dan potongan kayu kecil pun berubah menjadi batang pohon yang memadati lokasi perkampungan Raja Sonang.

Beberapa bulan kemudian, ternak sapi dan kerbau yang dimiliki RajaSonang semakin lama semakin bertambah banyak jumlahnya sementara hasil pertanian dan pohon yang dimilikinya ikut bertambah banyak sehingga Raja Sonang semakin terkenal sebagai warga paling kaya di daerah tersebut.

Setelah hampir ½ tahun kemudian, karena sudah sangat rindu akan kampung halamannya, terlebih-lebih kepada Orangtua dan saudara-saudaranya di Samosir, maka Boru Saroding pun meminta ijin kepada suaminya untuk diberikan kesempatan pulang ke kampung halaman guna mengobati rasa rindunya tersebut.

“Suamiku… saya sudah rindu akan kampung halaman, saudara-saudaraku dan terlebih lebih orang tuaku di Samosir, ijinkan saya menjenguk mereka, saya tidak akan lama lama disana” Kata Boru Saroding kepada Suaminya.

Dengan berat hati Suami Boru Saroding menjawab : “Sepertinya saya punya firasat buruk jika aku ijinkan engkau berkunjung ke Samosir, sepertinya engkau tak akan kembali lagi ke tempat kita ini (Ulu Darat)”

Boru Saroding pun tidak putus asa dan tetap berupaya membujuk suaminya agar Boru Saroding diberi ijin seraya berusaha memberikan kepercayaan kepada Suaminya.

“Suamiku… saya janji jika engkau ijinkan saya ke Samosir, saya akan pulang karena saya tidak mungkin meninggalkan suamiku sendiri yang telah memberikan saya kebahagian dan telah memberikan aku kasih sayang. Saya hanya sebentar di Samosir setelah itu saya akan pulang ke sini (Ulu Darat)” jelas Boru Saroding kepada Suaminya.

Karena Boru Saroding sudah memohon dan memberikan penjelasan yang cukup meyakinkan suaminya, maka suami Boru Saroding pun mengijinkan Boru Saroding untuk bertamu ke Samosir tempat tinggal mertuanya, sehingga suaminya mengantarkan Boru Saroding ke tepi pantai Danau Toba untuk menyeberangkan istrinya ke Samosir.

Dengan penuh keajaiban, suami Boru Saroding memetik sepucuk daun pohon kemudian meletakkannya di tepi Danau dan tiba-tiba daun tersebut berubah menjadi sebuah sampan. Setelah itu suami Boru Saroding mempersilahkan Boru Saroding memasuki sampan tersebut. Kemudain Suami Boru Saroding berkata : “Boru Saroding istriku yang baik hati, engkau adalah putri raja yang telah menjadi istrik. Engkau berjanji akan cepat kembali dari Samosir karena kita saling mencintai dan saling menyayangi. Jadi kumohon dengan sangat, agar engaku penuhi janjimu dan cepat pulang ya isteriku, saya juga percaya akan apa yang telah engkau janjikan kepadaku..” kata suaminya kepada Boru Saroding.

Boru Saroding pun mengangguk seraya meng-ia kan perkataan suaminya dan berkata “Baik Suamiku, percayalah… saya akan cepat pulang dari Samosir, engkau boleh membuat sumpah” kata Boru Saroding kepada suaminya dengan usaha untuk tetap menyakinkan suaminya agar rencananya dapat berjalan lancar. Lalu Suami Boru Saroding pun mengucapkan sebuah sumpah :

“Dekke Ni Sabulan Tu Tonggina Tu Tabona, Manang ise si ose padan..Turipurna tu magona” (Dalam bahasa Indonesia diartikan bahwa : Setiap Orang yang Ingkar Janji/Sumpah maka Ia akan menanggung akibat buruk). Dengan perasaan sedih yang mendalam di hati Suami Boru Saroding mendorong sampan.

“Berangkatlah istriku Boru Saroding” kata Suaminya kepada Boru Saroding sambil melepas sampan yang dinaiki Boru Saroding ke arah Danau Toba yang saat itu situasi tampak damai tanpa angin dan tanpa gelombang. Bahkan saat itu, cuaca di langit tampak begitu cerah. Setelah Boru Saroding mendayung sampannya sekitar 5 (lima) meter dari bibir pantai, Boru Saroding pun berkata dengan pelan seperti berbisik “Beughhh…bursik ma ho….…., kupikir engkau manusia…ternyata engkau hanya seekor ular dan hanya hantu berwajah manusia. Kau kira saya akan kembali lagi ke Ulu Darat, tempat yang mengerikan itu? Dasar hantu berwajah manusia, berbadan ular.” Kata Boru Saroding dengan pelan sambil tergesa-gesa mendayung sampannya yang dibarengi rasa kecewa serta ketakutan.

Tiba tiba, cuaca di langit berubah menjadi gelap, angin putting beliung, hujan dan suara petir datang sehingga ombak besar mulai muncul di Danau Toba dimana Boru Saroding sedang melintas dengan sampannya. Melihat situasi yang tiba-tiba berubah, Boru Saroding pun menjerit-jerit ketakutan, dengan sekuat tenaga.

Boru Saroding pun berupaya mengendalikan sampannya. Tiba-tiba muncullah ombak yang sangat besar menuju Boru Saroding sehingga Boru Saroding pun tak mampu mengendalikan sampan yang ditumpanginya. Boru Saroding dan sampannyapun ikut terseret gelombang besar tersebut. Tak lama kemudian Boru Saroding pun hanyut dibawa arus air ke dasar Danau Toba.

Versi lain

“Amang boru berencana berangkat bersama namboru dan anak nya menuju ke samosir. Tapi ketika sampai di tepi danau toba,namangboru meminta anak nya dari boru saroding. Dan amang boru mengambil bulung ni sukkit, dan berkata nakkok ma ho, rappak sahat do annon hita di huta. Jala tung so jadi dohononmu ahu jolma so jolma, begu so begu nang pe di bagas roham. Lalu amang boru meniup bulung ni sukkit yg di naiki namboru. Begiti sampai di tengah danau toba, namborutta berfikir,dan dia berkata jolma so jolma, begu so begu do hape tonggani doli hi,…

Dan namboru pun di serang ombak dan langitpun menjadi gelap”

Semenjak kejadian itu hingga sekarang, Boru Saroding tidak dapat ditemukan dan menurut keyakinan Orang Batak, khususnya warga Pulau Samosir, menyakini bahwa Boru Saroding menjadi arwah penjaga Danau Toba sampai saat ini. Banyak warga yang masih meyakini hal tersebut bahkan sesuai dengan kesaksian beberapa keturunan Pandiangan masih meyakini kalau arwah Boru Saroding konon dikatakan jika ada sebuah kapal yang sedang melintas di perairan Danau Toba dengan kondisi cuaca buruk dan gelombang/ombak besar maka salah satu penumpang kapal yang merupakan keturunan Pandiangan atau masih keluarga dari marga Pandiangan dapat meminta pertolongan melalui doa kepada Boru Saroding agar ombak besar dan angin kencang yang sedang menghalau kapal tersebut dihentikan oleh Arwah Boru Saroding. Akan tetapi hal ini ternyata benar-benar terbukti karena hanya dengan memakan Sirih lalu berdoa memohon bantuan Arwah Boru Saroding, maka kendala apapun yang sedang dialami oleh kapal tersebut, akan dihentikan.

Hingga kini sebagian besar warga Samosir masih meyakini legenda serta keberadaan Arwah Boru Saroding. Dan warga menyebutnya Namboru Boru Saroding Penunggu Danau Toba wilayah Rassang Bosi, Dolok Martahan, Palipi, Mogang, Sabulan Janji Raja, Tamba, Simbolon, dan Hatoguan.

Dan dipesankan kepada seluruh warga yang berkunjung dan melewati daerah tersebut diminta agar tidak membuang ludah/sampah ke Danau serta tidak boleh berbicara kotor karena konon katanya orang yang tidak memenuhi pesan tersebut akan mengalami suatu hal yang cukup mengerikan dan kemungkinan besar kapal yang ditumpangi akan mengalami musibah besar.

Sementara Suami dari Boru Saroding dipanggil warga dengan sebutan “Amangboru Saroding” yang diyakini dan disaksikan sebagian warga Pandiangan, sering melihat suami Boru Saroding turun dari Ulu Darat menuju Danau tempat Ia mengantarkan istrinya, Namboru Boru Saroding. Penampakan dari suami Boru Saroding berwujud Ular Besar dan Panjang berbadan manusia berenang di sekitar tempat Boru Saroding tenggelam bersama sampan yang ditumpanginya.

Sementara di Kaki Gunung Ulu darat tepatnya di perkampungan Pandiangan, Desa Sabulan Kecamatan Sitiotio terdapat sebuah Permandian Namboru Boru Saroding yang diyakini sebagai tempat Boru Saroding mandi dan keramas dengan jeruk purut. Tempat tersebut diberi nama “Par Anggiran Ni Namboru Boru Saroding” di tempat permandian Boru Saroding tersebut terdapat pohon besar dimana pada dahan dan ranting pohon tersebut ditumpangi pohon Jeruk Purut. Akan tetapi buah dari Jeruk Purut yang menumpang ke Pohon besar tersebut tidak boleh diambil sembarang orang.

Kisah atau Legenda ini menjadi salah satu Objek Wisata di Kabupaten Samosir. Situs Budaya yang mengisahkan Legenda Perjalanan Boru Saroding dan kemudian tempat tersebut di beri nama “Par Anggiran Ni Namboru Boru Saroding” yang berlokasi di Desa Sabulan, Kecamatan Sitiotio Kab.Samosir. Atau jika kita berkunjung ke tempat bersejarah tersebut, hanya sekitar ½ jam dengan menggunakan kapal dari Pelabuhan Mogang Kec.Palipi. Tempat ini seiring dikunjungi oleh Keluarga Pandiangan atau Si Raja Sonang bahkan turis lokal maupun mancanegara mengunjugi tempat ini dengan tujuan berjiarah sekaligus mengenang Perjalanan Namboru Boru Saroding Pandiangan.

Hingga saat ini, kisah nyata serta kesaksian tentang keberadaan Arwah Namboru Boru Saroding masih banyak dikisahkan oleh warga Samosir khususnya warga yang sedang melintas di Daerah tersebut.

Demikian saduran dari Namobru boru Saroding, tentunya masukan sangat diharapkan untuk mendekati kebenaran legenda ini terutama buat keturunan kita.

Horas…!!! Mauliate….!!!

Dalihan natolu

dalihan natolu

Saudara menurut wikipedia adalah kerabat keluarga laki-laki maupun perempuan yang lebih muda ataupun lebih tua.

Kebutuhan adalah keinginan manusia terhadap benda atau jasa yang dapat memberikan kepuasan jasmani maupun kebutuhan rohani

Manusia mempunyai kebutuhan yang akan atau harus dipenuhi, baik secara moril maupun material.

Pada umumnya orang akan mengutamakan kebutuhan material, baru kemudian moril, hal ini terjadi karena kebutuhan materi adalah hal yang diperlukan untuk hidup dan kebutuhan moril adalah untuk mempertahakan kehidupana agar hati damai sentosa.

Walaupun kadangkala kalau di pikir-pikir bahwa kebutuhan materi adalah relatif, apakah kebutuhan utama atau sekunder, wajib atau tidak wajib.

Pada umumnya dalam mempertahankan hubungan antar insan manusia karena kita adalah mahluk sosial, yaitu harus berinteraksi dengan sesama insan manusia. Karena jika kita hanya hidup sendiri, tidak akan bisa hidup dengan baik, misalnya bagaimana kita makan kalau tidak ada petani yang menanam padi atau gandum? Tentu kita tidak harus bertani dulu baru makan dan selanjutnya, maka akan ada batasan-batasan yang dibuat agar bisa berjalan dengan baik hubungan korelasi antar insan manusia.

Sehingga dengan kebutuhan ini, maka terutama yang sudah dewasa dalam artian 17 tahun keatas atau sudah menikah dianggap sudah bisa untuk memenuhi kebutuhannya/memutuskan kebutuhannya. Dan hal ini membuat ada batasan-batasan/aturan-aturan yang harus dijalani agar tidak terjadi perselisihan terutama dalam hubungan saudara tadi.

Di tanah batak karena saya orang batak ada namanya “dalihan natolu” yaitu 3 (tiga) dasar/landasan  yang harus dipegang dalam menjalankan hubungan dengan saudara. 1. “Somba marhula-hula” : hormat kepada mertua karena mereka adalah asalnya kita mempunyai keturunan melalui anaknya perempuan yang dinikahi. DI tradisi batak, kalau mertua sampai marah maka (karena umumnya petani), tanaman tidak akan tumbuh sehingga tidak dapat berkah.

2. “Manat mardongan tubu” : hati-hati dalam berkomunikasi atau berinteraksi dengan saudara hubungan darah terutama yang sudah menikah karena yang sudah menikah sudah mempunyai koridor sendiri secara kebutuhan yang tidak bisa di interperensi/diatur. Mereka mempunyai masalah sendiri, kebutuhan sendiri, kehidupan sendiri.

3. dan terakhir adalah “elek marboru” : dimana kita mempunyai anak perempuan harus disayang termasuk istri karena dia juga perempuan.

Harapannya dengan menjalankan ini sesuai tradisi batak maka ada saling gmenghargai untuk membuat hidup dan hubungan dengan saudara yang harmonis.

Demikian yang bisa saya ungkapkan, semoga ada rekan-rekan saudara yang bisa menambahkan kurang lebihnya.

Walau kadang kalau dilihat orang batak itu sering berselisih, bahkan sampai ada yang namanya sumpah, tapi ini kan namanya mengingatkan kepada kita agar mengetahui dan mengerti.

Semoga ada manfaatnya sebagai pengetahuan terutama kita yang bersaudara agar terjalin hubungan yang harmonis.

e8c1b-1ubeon2-1

Hidup ini adalah kodrat yang harus dijalankan yang membuat kita harus damai dan tentram terutama dari hati kita masing-masing. Semoga Tuhan memberi karunia dan damai sejahteraNya kepada kita umatNya di dunia ini.

Silsilah marga batak

Berikut asal muasal marga batak yang dikumpulkan dari berbagai sumber internet.

Sebagai masukan perbaikan silahkan di comment.

Setiap baris “koma” adalah anak ke dari urunan nomor diatas.

SIRAJA BATAK
1 Guru Tatea Bulan(Gol. Hula2/Lotung),  Raja Isombaon(Gol.Matahari)
*Putra
2 Raja Uti (Rj Biak2), Tn Sariburaja (keturunan Pasaribu), Limbong Mulana, Sagala Raja SilauRaja (Malau, Manik, Ambarita dan Gurning)
*Putri
2 Siboru Pareme (mauliTn Sarib ke uraja) kembar Tn.Sariburaja Siboru Anting Sabungan (Tn Sorimangaraja/Putra Isombaon) Siboru Biding Laut (Nyi Loro Kidul) Siboru Nan Tinjo (tdk Kawin)

2 Tn Sariburaja (keturunan Pasaribu)
3 Raja Lottung (dari Pareme), Raja Borbor (nai mangiring laut), Raja Babiat (dari Harimau) ke mandailing marga bayoangin
*Putra
4 Tn Situmorang, Sinaga, Raja Pandiangan, Toga Nainggolan, Simatupang, Aritonang, Siregar
*Putri
4 Boru Anakpandan (Toga Sihombing), Boru Panggabean (Toga Simamora)

4 Situmorang
5 Lumban, pande, Lumban, Nahor, Suhut ni huta, Siringo-ringo, Sitohang uruk. Sitohang tonga-tonga, Sitohang toruan (lumban gaol)

5 Siringo-ringo
6 Lumban toruan, Sipangpang, Rumapea

4 Sinaga
5 Simanjorang, Simandalahi, Barutu

4 Pandiangan
5 Rj. Humirtap, Rj. Sonang
6 Toga Pande, Lumban uruk, Suhut ni huta, Lumban toruan

5 Rj. Sonang
6 Gultom, Pakpahan, Samosir, Sitinjak, Harianja

4 Nainggolan
5 Ruma Hombar, Si batu, Simatupang, Aritonang
6 Lumban tungkup
7 Ruma horbar, lumban raja

5 Si batu
6 Parhusip, Batubara, Siahaan, Ampapaga

4 Simatupang
5 Sitoga torop(Siborutorop), Sianturi, Siburian

4 Aritonang
5 Ompu Sunggu, Rajagukguk, Simaremare

4 Siregar
5 Silo, Dongaran, Silali, Siagian

4 Silali
5 Ritonga, Sormin

3 Raja Borbor (lahir dari naimangiring laut)
6 Datu Taladibana (Cucu Raja Borbor)– gereneasi ke-6
7 Datu Dalu (sahangmaima), Sipahutar, Harahap, Tanjung, Datu Pulungan (Pulungan), Simargolang (Imargolang)
8 Pasaribu, Batubara, Habeahan, Bondar, Gorat, Tinendang, Tangkar, Matondang, Saruksuk, Tarihoran, Parapat, Rangkuti

7 Datu Pulungan (Pulungan)
8 Lubis, Hutasuhut, Limbong mulana

8 Limbong Mulana
9 Palu Onggang, Langgat Limbong

9 Langgat Limbong
10 Limbong, Sihole, Habeahan

2 Silau Raja (Malau, Manik, Ambarita dan Gurning)
3 Malau, Manik, Gurning
4 Paseraja, Ambarita, Gurning, Lamberaja

4 Lamberaja
5 Manik raja

4 Ambarita
5 Lumban Pea, Lumbang, Pining
6 O.Mangomborlan (Tdk ada laki2), O.Bona, Nihuta

6 O.Bona Nihuta
7 O. Suhut ni huta (tunggal)
8 O. Tondolnihuta
9 O.Martua, Boni, Raja(O.Mamontang Laut), O. Rj Marihot, O.Rajani Umbul
10 O. Sohiloan, O.Jaipul, O.Sugara
11 O.Josep

1 Raja Isombaon(Gol.Matahari)
2 Tn. Sorimangaraja (Br. Anting Malela/nai rasaon/Putri tatea bulan, Br. Biding Laut/Nai ambaton, Br. Sanggul Baomasa/nai suanon), Raja Asiasi Sangkar Somalindang
2 Tn Sorba Djulu (O.Rj. Nabolon) dari Br Anting gelar nai ambaton
2 Tn. Sorba Jae (Rj. Mangarerak) dari br. Biding gelar nai rasaon
2 Tn. Sorbadibanua (Tn. Sorba Djulu/O.Rj. Nabolon) dari Br. Sanggul nai suanon

2 Nai Ambaton
3 Simbolon Tua (Simbolon) Tamba Tua (Tamba), Saragi Tua (Saragi), Munte Tua (Munte, Nai Munte, Dalimunte)

3 Simbolon
4 Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Nahampun, Panyungan, Berampu, Pasi

3 Tamba
4 Siallagan, Tomok, Sidabutar, ,Sijabat Gusar, Siadari, Sidabalok, Rumahorbo, Napitu

3 Saragi
4 Simalango, Saing, Simarmata, Nadeak, Sidabungke

3 Munte
4 Sitanggang, Manihuruk, Sidauruk, Turnip, Sitio, Sigalingging
5 Sitanggang bau, Sitanggang lipan, Sitanggang upar, Sitanggang silo

10 Ompu Bada (Keturunan Nai Ambaton generasi ke-10) bermarga gajah
11 Tendang, Banura, manik, Beringing, Gajah, Barasa

2 Nai Rasaon (Rj. Mangarerak)
3 Rj. Marpodang Rj. Mangatur
4Sitorus, Sirait, Butar-butar
5 Pane

3 Rj. Mangatur
4 Toga Manunurng

2 Nai Suanon (Tn. Sorbadibanua)
dari Istri pertama (putri sariburaja)
3 Sibagot ni Pohan (Pohan), Si paet Tua, Silahi Sabungan (Silalahi), Rj. Oloan, Rj. Huta lima
dari istri ke2 br.Sibasopeat putri mojopahit
3 si raja sumba, siraja Sobu, Toga Naipospos (Naipospos)
4 Toga Simamora, Sihombing
5 Toga Purba, Manalu, Debata Raja, Somerham (ke Pakkat dan Barus)
6 Sipantomhobol, Parhorbo, Si gulang batu
7 Tn. Didolok, Porgadung, Balige Raja
8 O. Tinambaaan, O.Tahiraja, O.Raja Idaon
9 O. Raja Ihutan, O.Unggul, O. R. Dolok, O. Habiaran
10 O. R. Ihutan, O. Panaha Raja, O. Huta Inas, O. R. Itoba, O. Sigambo (Matiti)

9 O.Unggul
10 O. R. Suhut, O. Pangulu Raja.

6 Parhorbo
7 Parhoda-hoda, Marsahan omas, Tn. Manorsa
8 O.R. Suherman, O.Badiporhas, O.Habinsaran
9 O.Purba, O.Nalu, O.Anakraja

7 Datu Marsahan Omas
8 O.Saruan Bosi, O.R.Sihoda, O.Mamora Soleanon
9 O.R.Sobo, O.Borotan

8 O.R.Sihoda
9 O.Omo, O.Purba, Tanjung

8 O.Badiporhas
9 O.Barada

8 O.Mamora Soleanon
9 O.Lanu

8 O.Habinsaran
9 O.R. Natarus, O.R. Omaoma, O.Tungkot, Marpaung, O.Duniaraja, O.Gr.Pinangan

7 Tn. Manorsa
8 Sora Malela, O. Taraim, O.Soimbangun, Tn. Sungguraja, R. Hinokhop

8 R. Hinokhop
9 Raja bara
10 Tondang, Tambun saribu
11 Silopak, Sihalpe, Hinalang, Sihuta tano

7 Balige Raja
8 O.Balige Raja
9 O.Balige Sende
10 O.Namora Tinahi, O.Pulungan Tua, O.Tombak Saribu
11 O.Gr. Manglingkang
12 O.Tuluntun
13 O.R.Natimbul

10 O.Pulungan Tua
11 O.Paiti

8 O.R.Idaon
9 O. Burnang, O. R. Dimana

9 Sigulangbatu
10 O.Partaliganjang(Parlangka jolo) R.Ursa
11 O.Gr.Sotangguon
12 Somalate, O.Datu Rajim
13 Juaro Parultop, DatuDarulas

2 Sihombing
3 Borsak Junjungan Salaban, Borsak Simuronggur Lumbantoruan, Borsak Mangatas Nababan, Borsak, Bimbinan, Hutasoit

3 Toga Sobu (Hasibuan)
4 Sitompul, Rj. Hasibuan

4 Rj. Hasibuan
5 Gr. Mangaloksa si4 pisoran, Gr. Hinobaan
6 Hutabarat, Panggabean, Hutagalung, Hutatoruan
7 Hapottahan, Sisunggulon, Hutabarat Pohan

7 Hutabarat Pohan
8 Parbaju Partali

6 Panggabean
7 Lumban ratus, simorangkir, Lumban Siagian

6 Hutagalung
7 Miralopak, Rj. Inaina
8 Harean, Napitupulu

7 Rj. Inaina
8 Inaina, Dasopan, Botung

6 Hutatoruan
7 Hutapea, Lumban tobing

7 Lumban Toruan
8 Huta gurgur, Huriara

6 Nababan
7 Dolok Toruan

5 Manalu
6 Mangararobean, Mangaradolok, Debataraja
7 Sorimungu, Rumagorga, Sigukguhi, RumaIjuk, RumaHole

6 Mangaradolok
7 Paruma, Pareme, Datu napunjung, Tongkot, manodo

6 Debataraja
7 Babiat nainggolan, Sampetua, Gaja Marbulang

4 Sibagot ni Pohan (Pohan)
5 Tn Sihubil, Tn. Somanimbil, Tn. Dibangarna, Sonak, Malela
6 Tampubolon, Barimbing, Silaen

5 Tn. Somanimbil
6 Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol

5 Tn. Dibangarna
6 Panjaitan(Dairi), Silitonga, Siagian (Pardosi), Sianipar

5 Sonak Malela
6 Simangunsong, Marpaung, Napitupulu

3 Si paet Tua
4 Pangulu Ponggok, Partano, Puraja laguboti
5 Rj. Hutahean, Rj. Aruan, Rj. Hutajulu

4 Partano
5 Sibarani(Sarumpaet), Sibuea

4 Puraja laguboti
5 Pangaribuan, Hutapea(Laguboti)

3 Silahi Sabungan (Silalahi)
4 Sihaloho, Situngkir, Sirumasondi, Sinabutar, Sinabariba, Sinabang, Pintubatu, Tambunan, Turgan, Solia, Sidebang, Boliala, Pintubatu, Sigiro, Tambun(Tambunan) Doloksaribu, Sinurat, Naiborhu, Nadadap, Pagaraji, Sunge, Baruara, Lumban Pea, Lumbang Gaol
5 Sinarborno, Sinapuran, Sinapitu, Masopang

4 Situngkir
5 Sipakar, Sipayung

4 Sirumasondi
5 Rumandosni, Ruma, Sigap

4 Pintubatu
5 Doloksaribu, Sinurat, Nadapdap

4 Tambunan
5 Lumbanpea, Baruara, Lumbangaol

3 Rj. Oloan
4 Naibaho Ujung, Bintang, Manik, Angkat, Hutadiri, Sinamo, Capa, Sihotang(Sigodangulu), Bangkara, Sinambela, Dairi, Sihite, Sileang, Simanullang
5 Siahaan, Sitangkarean, Sidauruk, Hutaparik

5 Sihotang(Sigodangulu)
6 Sipardabuan, Uruk, Sorganimusu, Sitorban, Dolo, Sirandos, Simorsolit, Sihotang Hasugian, Lumbang batu

4 Rj. Huta lima
5 Maha, Sambo, Pardosi, Sembiring, Maliala

3 Toga Naipospos (Naipospos)
4 Toga Marbun, Toga Sipoholon
5 Lumban Batu, naipospos, Banjarnahor, Lumban gaol
6 Marbun, Sehun, Meha, Mungkur

4 Toga Sipoholon
5 Sinagabariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang

6 Samosir
7 R. Bolon, R.Surung, R.Sidari
8 O. Podu, Soribudali

8 Soribudali
9 Gr. Debata ( urutan ke-4)
10 O. Rj. Limbo
11 Gr. Sosonggolombuan, Gr. Mangallat, Gr. Horbol, Gr. Sinaga, Gr. Marsaong
12 R. Jabut, Gr. Pangundang (B.Pulau), O. Ribahiras (Lg. boti), O. Bagal/Iring (Huta batu), O. Guhuntan

12 Gr. Pangundang (B.Pulau)
13 Panatap, Tk. Dalam, Asahan
14 Ulong, Solat, Madjid, Ibrahim, Ali

14 Ibrahim
15 Nuddin, M. Alwi (Tjg. Balai)

15 M. Alwi
16 Ilhamuddin (medan), Zayadi (Tjg. Balai), M. Nawawi (Duri), Kholil (tjg. Balai)
17 Faldo (Ilhamuddin), Yuda (Zayadi), Ari dan Zidan (Nawawi), Polan (Kholil)